Kumpulan Hikmah Buku Pembangun Ruhaniah
Nur Shinta Fitriani
Day 1 (22 Mei)
[Hikmah Membaca: Buku "Dompet Ayah Sepatu Ibu" oleh J.S. Khairen]
Saat ini sudah berjalan 5 halaman. Mungkin ini yang ingin aku sampaikan.
🌱 Berbaktilah kepada kedua orang tuamu. Bersyukurlah kamu masih memiliki mereka saat ini. Doakan kebaikan untuk mereka. Karena kita tidak hidup di dunia 'selamanya'.
Aku harap, apapun kondisi keluarga kalian saat ini. Cobalah untuk menurunkan ego sedikit demi sedikit. Lebih baik kita membuat kenangan yang baik dan indah. Daripada membuat hati sumpek karena perlakuan mereka yang mungkin kurang mengenakkan.
Kita lah yang sebaiknya mencoba untuk mengerti keadaan mereka. Karena mau bagaimanapun, mereka adalah orang tua kita.
So, sayangi mereka selagi ada.
Dan doakan mereka saat sudah tidak ada lagi di dunia.
Semangat membangun hati seluas samudra.
Muhammad Ramadhan Al-Ghifari
Day 2 (23 Mei)
[Hikmah Membaca: Buku "Jika Kucing Lenyap dari Dunia" oleh Genki Kawamura, terj. Ribeka Ota]
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat malam semuanya.
Semoga dalam keadaan sehat dan tetap positif ya!
Malam ini aku mau sharing apa yang telah ku baca. Akhir-akhir ini banyak kesibukan jadi nggak sempat baca buku baru, sebelumnya aku juga lupa nge-list buku yang dibaca. Ada satu buku novel jepang yang sudah lama ku beli tapi belum kebaca. Dan aku sekarang lagi di Banjarmasin, jadi yang aku sharing di sini adalah buku dari yang pernah ku baca dulu. Judulnya kalau tidak salah, "Jika Kucing lenyap dari Dunia", ini yang seingatku juga karena lagi di Banjarmasin, jadi nda sempat baca bukunya lagi, mohon maaf gess...ðŸ˜
Novel ini menceritakan anak muda yang didiagnosis mengidap kanker stadium akhir, jadi sudah sekarat. Suatu hari Ia bertemu Iblis yang menawarkan perjanjian, yaitu ia harus menghilangkan benda kesayangannya setiap hari agar nyawanya bisa bertahan lebih lama. Aku nggak akan spoiler lebih banyak karena sudah selesai bacanya (belum sempat baca buku baru), tapi jujur makna ceritanya cukup dalam. Jadi, hikmah yang ku dapatkan dari buku ini adalah kita jadi lebih menyadari betapa penting dan bernilainya hal-hal kecil yang selama ini selalu bersama kita. Kita diajak merenungkan kalo misalkan sesuatu yang kita sering tidak sadari itu hilang dari dunia, ketika kita memikirkannya kita bisa lebih menghargai itu semua.
Ada juga benda yang selama ini kita pakai tapi sebenarnya itu hanya menambah waktu sia-sia kita. Misalnya, handphone yang terus mendistraksi kita saat ini, di novel ini salah satu benda yang dihilangkan di dunia oleh tokoh utama adalah handphone, ternyata tanpa handphone kita tuh masih 'hidup' loh. Kasarnya, penulis ingin menyadarkan penulis kalo hidup kita bukan cuman dihabiskan dengan menggunakan handphone, tapi kita bisa memanfaatkan waktu itu untuk bersosialisasi dengan temen-teman dan ortu, nah ceritanya juga menyinggung tentang waktu bersama ortu, yang bakal bikin sedih saat kalian baca novelnya.
Mungkin itu aja kak untuk hikmah hari ini, mohon maaf masih belum ngasih hikmah/insight dari buku baru yang Ulun (aku) baca, next nanti kalau sempat di sela-sela waktu, Ulun ngasih insightnya.
Dari Aqilah
Day 3 (24 Mei)
[Hikmah Membaca: Buku "Ayyuhal Walad" karya Imam Al-Ghazali yang diterjemahkan oleh Ustadzah Syarifah Halimah Alaydrus]
Hari ini ana membacanya sampai pada halaman 111, ada beberapa hikmah yang sangat menampar diri ana sendiri, beberapa di antaranya :
Suatu ilmu itu mesti diamalkan. Tanda berkahnya ilmu itu adalah yang menyelamatkan kita dan bermanfaat (dapat diamalkan).
Kita sangat mudah memberi nasehat ke orang lain. Menurut kita itu enak diamalkan dan didengarkan oleh diri mereka. Nyatanya kita sendiri pun kebanyakan pas dinasehati rasanya tak enak dan berat, sekecil apapun dan selembut apapun nasehatnya. Makanya menasehati orang itu seperti menuangkan susu yang rasa pahit ketika diminum oleh orang yang kita beri nasehat. :’) Ketampar sekali di sini.
Kita tidak tahu amalan apa yang membuat kita selamat di akhirat kelak. Jadi jangan remehkan amalan sekecil atau semudah apapun.
Kita masuk Surga atas rahmat Allah, bukan karena amalan kita. Tapi ingat juga, rahmat Allah itu diberikan kepada orang-orang yang ta’at kepada-Nya.
Jangan berputus asa dari rahmat Allah, karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya.
Hari ini sudah membaca buku ini sampai habis. Padahal seharusnya fiksi bukan? Tapi seperti tidak afdhol jika tidak menuntaskan apa yang sudah dimulai wkwkwk. Semakin membaca kitab ini, semakin tertampar lagi. Beberapa hikmah yang kudapat adalah :
Perbaiki niat kita ketika ingin menuntut ilmu. Apakah untuk mendapat pujian dan penghormatan oleh orang lain? Apakah ingin kita dipandang bagus di mata manusia saja? Maka perbaiki lagi niat dan motivasi kita ke arah yang lebih baik. Ada tujuan yang lebih tinggi dari sekedar mendapatkan validasi dari manusia. Yakni bertujuan menghidupkan syari’at nabi, menghancurkan hawa nafsu serta egoisme diri dan mendapatkan keridhoan-Nya yang paling utama.
Wahai Anakku, Hiduplah sesukamu, kamu akan mati. Cintailah siapapun yang kamu mau, kamu akan berpisah dengannya suatu hari nanti. Berbuatlah apapun yang kamu mau, kelak kamu akan mendapatkan balasannya.
Penempuhan jalan akhirat melewati 4 hal : 1. Keyakinan yang benar (aqidah dan keimanan yang lurus), 2. Taubat yang sungguh-sungguh (nasuha), 3. Meminta maaf kepada semua orang sehingga tidak ada urusan atau tanggungan dengan manusia, 4. Mempelajari ilmu syari’at.
Lalu ada nasehat seorang ulama, beliau adalah tuan Hatim Al-Ashom yang memberi 8 point penting untuk keselamatan beliau sampai ke akhirat setelah belajar dengan Tuan Syaqiq Al-Balkhi, yakni : 1. Kekasih sejati itu yang menemani hingga di dalam kubur. Yakni amal sholeh. 2. Berjuang menundukkan dan mengendalikan hawa nafsu dan tidak membenarkan nafsu yang buruk. 3. Berusaha menjadikan harta duniawi jalan menuju akhirat dengan menyedekahkannya kepada yang membutuhkan. 4. Orang yang paling mulia adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah, bukan karena banyaknya harta, jabatan, anak, keturunan, kekuasaan, dll. 5. Caci maki, perkelahian terjadi karena adanya sifat iri dengki, maka hindarilah iri dengki di dalam hati. 6. Permusuhan datang dari Setan. Maka kita patutnya hanya memusuhi setan, karena dia adalah satu-satunya musuh yang nyata. 7. Pahami bahwa rezeki datangnya dari Allah SWT. Maka sibukkan diri kepada-Nya dalam segala hal. 8. Bersandarlah kepada Allah karena Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar.
Sebenarnya masih banyak lagi. Tapi hanya itu yang bisa kubagikan pada hari ini. Sisanya, bisa baca kitabnya. Kalau ada yang penasaran. Bukunya sudah banyak dibahas dan beredar baik di toko-toko kitab, online shop, dibahas di majelis2 juga, dan di youtube juga ada di sini :
Bahasan Guru Bakhiet :
https://www.youtube.com/watch?v=lIF4wWVpEJo&list=PLKc6XF4qxKImB93zXmGPK_3fIXmsa7UJj
Buya Yahya :
https://www.youtube.com/watch?v=lIF4wWVpEJo&list=PLKc6XF4qxKImB93zXmGPK_3fIXmsa7UJj
KH Abdullah Habib Faqih :
https://www.youtube.com/watch?v=9bpnyTWsUsE&list=PLbbe4IdkuWOcVGxQaqkMN088ENzTHLiC_
Ustadzah Syarifah Halimah Alaydrus :
https://www.youtube.com/watch?v=0M2bKVEuohQ
Dari Farah
Day 5 (26 Mei)
[Hikmah Membaca: Buku "Keajaiban Toko Kelontong Namiya" karya Keigo Higashino]
Hari ini saya membacanya sampai selesai, pengalaman membaca novel ini menyenangkan karena latar waktunya berganti-ganti, bolak-balik antara masa kini dan masa lalu. Cukup memusingkan, tapi disitu lah keajaibannya, semakin dibaca semakin jelas kok timeline dan hubungan antar tokohnya. Premisnya adalah sebuah toko kelontong yang menyediakan jasa konsultasi lewat surat. Penulisan dan konfliknya ringan, tidak banyak kata-kata puitis, cocok dengan genre-nya, yaitu fiksi remaja. Terjemahannya juga nyaman dibaca.
Ada beberapa hikmah dan kalimat penenang atau penghibur yang saya dapatkan, tentunya sesuai dengan kondisi mental saya saat ini. Ini no spoiler kok guys:
Menyikapi hidup yang penuh dengan pilihan
Manusia punya rencana atau impian, tapi pasti ada berbagai rintangan di setiap jalan menuju impian tersebut. Berbagai rintangan yang ada melahirkan berbagai solusi pula. Memilih solusi terbaiklah yang menjadi tantangan. Apalagi terkadang pilihan itu bersinggungan dengan orang-orang di sekitar kita, mau tidak mau kita pasti memikirkannya, khususnya terkait orang-orang yang kita sayangi dan hargai.
Tokoh-tokoh dalam novel ini pun seperti itu, ada yang impiannya terhalang karena kondisi orang tua, kekasih, dll. Ada yang pada akhirnya berhasil, ada pula yang harus merelakannya. Berikut adalah beberapa kutipan dari tokoh-tokoh dalam novel:
“Saya memang tidak terpilih. Saya dianggap tidak memenuhi syarat. Tapi saya tidak menyesal karena setidaknya ini adalah hasil yang saya dapat lewat perjuangan terbaik.”
“Tidak masalah jika kau tidak berhasil memenangi perang itu. Bahkan perjuangan yang sia-sia pun berharga. Yang penting kau bisa menorehkan jejakmu di sana.”
Ada juga satu kutipan yang aku suka, ini dari tokoh yang merasa menghalangi impian pasangannya: “Bagiku, membuang cita-cita demi orang yang dicintai jauh lebih menyakitkan daripada kematian.” Ketika membaca cerita pasangan itu, aku jadi teringat lagi bahwa keterbukaan dan kepercayaan dalam hubungan memang sepenting itu. Capek tau struggle sendiri, coba kasih paham dulu kalau bisa.
Yang terpenting, perlu diingat bahwa setiap pilihan yang kita ambil pasti ada hikmahnya, cepat atau lambat disadari.
Justru dalam kondisi terpuruklah kita harus berjuang mati-matian
Ini kutipan tokohnya juga sih, intinya kondisi terpuruk bukan merupakan alasan untuk menyerah, melainkan pendorong untuk berjuang lebih keras dan menemukan jalan keluar. Allah pasti ngasih kita ujian kan, disitulah penghambaan kita kepada-Nya diuji. Bisa jadi Allah juga merindukan rintihan hamba-Nya, makanya dikasih ujian itu.
Kebersamaan dalam keluarga
“Selama kami sekeluarga masih berada di kapal yang sama, masih ada kemungkinan untuk kembali ke jalan yang benar”.
Ada salah satu kisah dimana tokohnya memilih berpisah dari keluarganya karena suatu masalah, padahal kalau diusahakan, pasti ada jalan. Tokoh itu memilih menyerah karena melihat grup idolanya bubar. Dia merasakan kalau antar membernya sudah tidak sehati lagi sehingga sia-sia saja kalau dilanjutkan.
Faktanya, memang banyak sih perpisahan dalam keluarga, misalnya pasangan yang bercerai demi hidup yang lebih bahagia. Tapi aku rasa, kalau sudah menjadi keluarga itu berbeda level, tidak bisa disamakan dengan hubungan biasa seperti grup idola tadi. Dalam islam pun perceraian ada tingkatan talaknya kan, yang artinya jika ada masalah, coba cari dulu solusinya, jangan buru-buru pisah. Makanya ada istilah “selesaikan secara kekeluargaan” kan wkwkw aduh kaya orang norak sama hidup deh saya. TAPI BIARIN, AKU MAU NULIS.
Kebaikan kecil dapat berdampak besar
Salah satu alasan kenapa layanan Toko Kelontong Namiya bertahan lama adalah karena pemiliknya menerima banyak ucapan terima kasih dari orang-orang yang menerima surat balasan curhatnya. Ketika kamu dicurhatin, mungkin kata-kata positif darimu terasa remeh, tapi siapa tau saat itu orang yang kita tolong beneran terbantu dan dampak positifnya balik lagi ke kamu. Berbuat baik janganlah ditunda-tunda~
Kita perlu orang yang blak-blakan
Ada salah satu tokoh yang blak-blakan dan menurutku dia menarik banget, karena perkembangan karakter serta latar belakangnya disampaikan dengan baik oleh penulis. Perdebatan dia sama tokoh lain yang lebih bijak tapi kurang tegas tuh bikin kita mikir lebih dalam. Si blak-blakan ini ada kalanya merespon curhatan orang juga.
Terkadang kita kalau curhat tuh merasa dihakimi atau direspon dengan nada kasar dan blak-blakan, kan. Tidak selamanya itu berarti kita curhat dengan orang yang salah atau kita yang terlalu baperan, loh. Kalau kita bisa memikirkan lebih dalam, kita bisa menyikapinya dengan lebih baik. Ingat, gak ada yang benar-benar ideal di dunia ini, bayangkan kalau semua orang baik, gak balance jadinya. Orang yang blak-blakan, bisa menyingkap tujuan kita, sekaligus mengarahkan supaya kita bisa menemukan jalan yang benar dengan kekuatan sendiri.
Hiburan bagi orang yang kebingungan dengan hidupnya
Aku sebagai orang dengan impiannya yang masih abstrak dan peta jalannya pun pasti tidak jelas, sangat terharu dengan kutipan surat terakhir dari Toko Kelontong Namiya: “Cobalah untuk mengubah sudut pandang. Karena peta Anda masih berupa kertas kosong, Anda jadi bebas menggambar apa saja”. Aku pastikan bahwa kalau kalian tau konteks surat itu, rasanya menakjubkan. Penulisnya cerdas sih bikin plot ini.
Poin terakhir ini cukup relate dengan salah satu hikmah yang kita dapat dari Aqilah “Wahai Anakku, Hiduplah sesukamu, kamu akan mati. Cintailah siapapun yang kamu mau, kamu akan berpisah dengannya suatu hari nanti. Berbuatlah apapun yang kamu mau, kelak kamu akan mendapatkan balasannya”.
Yah…entah sampai kapankah motivasi hidup ini akan bertahan lama, yang jelas aku harus bersyukur. Alhamdulillah karena adanya komunitas ini, setiap aku kehilangan minat hidup, selalu ada yang nge-starter lagi. Aku juga bisa sekalian belajar menulis. Terima kasih!
Komentar
Posting Komentar