Review Buku Sabar Paling Dalam (Fajar Sulaiman)
Sabar Paling Dalam
Nama
Penulis : Fajar
Sulaiman
Tahun
Terbit : 2021
Penerbit
: Fajar Sulaiman
Official
Ukuran : 13 x 19 cm
Tebal : 200
Kategori : Buku Motivasi
Harga
Buku : Rp75.000 (shopee)
Nomor
ISBN : 978-979-794-626-5
Sabar Paling
Dalam karya Fajar Sulaiman merupakan buku
lanjutan dari Ikhlas Paling Serius. Buku ini merupakan hal yang
diharapkan mampu membuat para muda-mudi sadar dan belajar tentang kesabaran
juga keikhlasan ketika menghadapi masalah dan cobaan di dalam hidup mereka. Ini
dimaksudkan agar di dalam hidup kita tidak banyak mengeluh dan memusuhi Tuhan
kita sendiri ketika ditimpa suatu hal yang tidak kita inginkan.
Belakangan ini
bisa dilihat, banyak masyarakat dari kalangan muda-mudi yang tergerus
privasinya, mengeluhkan cobaan hidupnya di sosial media, biasa disebut dengan
“sambat”. Platfrom seperti story whatssapp dan twitter contohnya.
Dua media sosial ini seringkali menjadi platfrom seseorang membagi hal
rahasianya, bahkan bisa mengeluhkan ratusan kata di dalam postingan dan
captionnya.
Karena kondisi
ini, bisa menyebabkan seseorang akhirnya menyalahkan keadaan hidupnya tanpa
mengambil hikmah yang sebenarnya terjadi. Buku setebal 200 halaman ini sangat direkomendasikan untuk
di baca. Di buku ini penulis akan memaparkan tujuan dan peranan kita sebenarnya
sebagai seorang manusia. Bahwa sebagai manusia kita itu pasti ditempa dan tidak
mungkin tidak ditempa. Setiap orang memiliki masalah yang berbeda-beda, tidak
mungkin untuk memaksakan semua orang mengerti. Seperti di zaman sekarang, niat
meminta solusi malah menjadi ajang “adu nasib”.
Jujur buku didapatkan
ketika acara seminar bedah buku di UIN Antasari yang diadakan oleh KAMUSH,
organisasi besar yang dinaungi Fakultas Ushuluddin dan Humaniora. Pada saat itu
penulis langsung memberikannya kepada beberapa peserta yang berani menceritakan
pengalaman dan perjuangan mereka dalam merelakan dan mengikhlaskan. Beliau
mengatakan bahwa buku ini cocok untuk orang-orang yang mengalami banyak cobaan
hidup. Bahkan buku ini pun terbentuk dari hasil pengalaman bertahun-tahun
beliau yang penuh dengan perjuangan.
Buku ini bukan
hanya tentang mengikhlaskan, namun juga merelakan, ridho dengan ketetapan yang
diberikan Tuhan, tentang bagaimana menghadapi permasalahan yang terus
berdatangan, tentang seseorang yang berusaha untuk tetap bertahan dan berpijak
dengan tegak di atas duri kesakitan.
Buku ini
memiliki keunikkan, di mana sang penulis tidak menampilkan daftar isi dalam
bukunya. Namun buku itu menuntut kita untuk berproses dan memahami setiap
pembelajaran hidup tanpa melewatkan setiap lembarnya. Jika ingin memahami
lembar yang jauh, harus dimulai dari lembar yang awal sampai ke halaman
tersebut. Begitu pula perjalanan hidup kita untuk tumbuh dan berkembang, tidak
bisa semuanya bisa didapat dan dilakukan instan sesuai dengan apa yang
kita inginkan.
Sedikit beberapa isi dari buku Sabar Paling Dalam yakni :
-Semua Akan Baik-Baik Saja
Pada bab ini
kita diajarkan bagaimana caranya meminta kepada Tuhan tanpa menuntut. Bahwa
ketika kita menyerahkan segala hal dalam hidup kepada Tuhan, maka tidak akan
ada lagi beban yang memberatkan pundak untuk menompang. Yang ada nantinya
adalah rasa syukur yang tidak terkira dan terus mengalir deras. Jika pun ada
rintangan dalam setiap perjalanan hidup, kita bisa melaluinya dengan perasaaan
lapang dan ikhlas.
Di sini selain diajari bagaimana cara meminta, kita juga diajari bagaimana caranya bersyukur. Sebab syukur itu harus dipaksakan agar menjadi suatu kebiasaan yang indah. Hanya karena satu atau dua hal tidak sesuai dengan yang kita harapkan, bukan berarti kita melupakan setiap pemberian Tuhan yang tentu lebih banyak. Kita harus sadar bahwa hidup yang sering kita keluhkan adalah kehidupan yang sebenarnya orang lain inginkan. Tugas kita hanyalah bersabar, bersyukur dan menerima.
-Titik Paling Rendah
Setiap orang
pasti memiliki titik paling rendah dalam hidup mereka. Hingga membuat dirinya merasa
lelah, sedih, marah, kecewa dan hal yang tak bisa digambarkan hanya lewat kata
atau ucapan. Rasa melangkah dalam keputusasaan, lebih dekat dibanding dengan
perjuangan. Tapi apakah kita menyadari bahwa malam yang begitu dingin bisa
menjadi pagi yang begitu hangat? Pernahkah kita menduga badai yang sangat riuh
dan mengerikan akan menjadi Pelangi yang sangat indah?
Percayalah
suatu saat kita akan menertawakan kesulitan yang pernah kita alami, lalu
berterima kasih kepada Tuhan atas segalanya, setelah kita mengetahui rahasia di
balik itu semua. Seseorang yang telah diberikan ujian setinggi gunung, tidak
akan pernah tersandung, terlebih hanya karena batu kerikil yang kecil.
-Kamu Belum Gagal
Ketika semua
mimpi harus terwujud sekarang dan tidak semua harapan harus sesuai dengan
keinginan, terkadang kita harus dibenturkan dengan banyak kegagalan. Ini dalam
artian kita sebenarnya bukan benar-benar gagal. Karena kegagalan terbesar yakni
ketika kita menyerah dalam segalanya.
Ketika kita
gagal, kita masih bisa bangkit, mencobanya lagi atau mencoba hal yang lebih
baik lagi. Maka kegagalan itu hanya proses mengasah kita dari batu hitam biasa,
menjadi permata yang luar biasa.
-Sebab, Sesekali Kita Butuh Air Mata
Kita sering sekali mengelak, menyembunyikan luka di balik ucapan
“aku baik-baik saja.”. Sebenarnya itu adalah cara yang kurang tepat. Sesekali
agar kita bahagia adalah dengan mengatakan bahwa kita sedang ‘tidak baik-baik
saja’. Sebab kalau terus-terusan berusaha kuat akan membuat kita kelelahan.
Ketika kita tidak baik-baik saja, jangan memaksakan diri. Istirahatlah sebentar, sholat tahajud dan curhat kepada Tuhan. Menangis sejadi-jadinya dan lega setelahnya. Terimalah kondisi kita, berdamailah dengan keadaan, kemudian ikhlaskan.
-Bunga
Pada
bab ini kita diajarkan tentang filosofi bunga. Bunga itu berbagai macam. Ada
yang indah namun tidak wangi, ada yang indah dan wangi namun cepat dirusak
manusia, ada yang layu bahkan tak jarang hancur. Bunga yang cantik memberikan
keindahan pada sekitarnya, bunga yang harum memberikan wanginya kepada tanaman
sekitar, begitu pula yang layu memberikan sumber kehidupan baru untuk bunga
yang tidak mengenalnya.
Di sini kita harus menyadari bahwa kita memiliki fungsi dan keindahan masing-masing. Tidak perlu kita membandingkan kesuksesan kita dengan kesuksesan orang lain. Kita memiliki waktu yang berbeda-beda dalam menjemputnya, Tugas kita adalah berusaha dan menunggunya sambil berprasangka baik kepada sang Pencipta.
-Bulan dan Matahari
Pada bab ini kita diajarkan lebih dalam agar tidak membandingkan
diri kita dengan orang lain. Bagaimana cara kita untuk menghargai diri sendiri.
Jika kita merasa begitu-begitu saja, tidak ada perubahan, bisa jadi karena kita
yang malas untuk berubah menjadi lebih baik.
Cobalah
untuk belajar pada bulan yang tak pernah iri kepada matahari karena dirinya tak
lebih terang pada siang hari. Cobalah bercermin pada matahari yang tak pernah
cemburu pada bulan sekalipun cahayanya tidak lebih bersinar ketika malam
datang.
-Musuh Untuk Dirimu Sendiri
Kita pasti pernah menyalahkan diri kita dengan bicara “Kenapa sih
gue bodoh banget?”, “Kenapa gue gitu aja nggak bisa? Gue sepayah itu?”, “Tuhan
nggak adil! Andai Tuhan adil kepadaku!” Ini bukan hanya saja melukai diri kita sendiri.
Namun juga dalam kata itu memberikan jarak yang cukup jauh antar kita dengan
Tuhan. Tuhan tak pernah menjauh. Hanya kita… Kitalah yang menjauhiNya,
memberikan kata-kata jahat dan menyakitkan.
Musuh
terbesar kita sebenarnya bukan orang lain, bukan Tuhan yang Maha Pengasih lagi
Menyayangi hamba-hambaNya. Kita sendirilah, kita yang menjadi musuh bagi diri
kita sendiri. Karena tidak ada yang mampu mengubah kita, kecuali diri kita
sendiri. Bahkan Tuhan mengatakan akan mengubah keadaan seseorang ketika seseorang
tersebut berniat dan berusaha untuk berubah.
Itu adalah
beberapa bab awal yang menyadarkan beberapa kekeliruan kita dalam berpikir dan
bertindak ketika dihadapkan berbagai ujian dan cobaan. Ada banyak hal-hal lain
yang menggiring kita untuk memahami makna sabar dan ikhlas di dalam diri kita.
Bisa dikatakan
narasi di dalam buku ini cukup singkat. Daripada menyebutnya buku, ini lebih
seperti kumpulan kutipan kata. Hal ini mungkin tidak sesuai dengan ekspetasi
para pembaca. Namun, beberapa kata yang mengena, singkat, padat, jelas dan
mengena dapat memotivasi para pembacanya.
Bisa dibilang,
buku ini mengajarkan bahwa hidup pasti diwarnai dengan masalah, cobaan,
halangan, rintangan, kebahagiaan, kesedihan, kekecewaan, kelucuan dan masih
banyak lagi. Rintangan itu bisa menjadi sulit karena kita yang berpikir itu
sulit. Namun sebaliknya, jika kita merasa rintangan itu sebagai tangga kita
menuju kebahagiaan sebenarnya, sebagai hikmah, kita tidak akan merasa hal itu
menjadi suatu halangan atau hal yang sangat berat untuk dilewati.
Bagi kalian
yang merasakan banyak kehilangan, hidup berjalan tidak sesuai dengan yang
kalian inginkan, banyak kesedihan yang menghantui pikiran, buku ini cocok untuk
kalian baca. Karena buku ini memiliki banyak motivasi yang dapat menyadarkan
kalian kembali untuk berjuang.
Komentar
Posting Komentar