Artikel- Menuju Pergerakkan Keemasan dalam Lingkup Rayon PMII

 

Menuju Pergerakkan Keemasan dalam Lingkup Rayon PMII


Bussaina Aqilah

            Setelah melakukan kegiatan SIG (Sekolah Islam Gender) PMII di Aula Baznas yang terletak di dekat Mesjid Raya Sabilal Muhtadin, yang diadakan oleh KOPRI Rayon Revolusi, komisariat Universitas Islam Negeri Antasari, maka pola pikir anggota PMII yang sudah mengikuti kegiatan tersebut sudah semestinya berubah, cara pandangnya pun berbeda dengan pola pikir sebelumnya.

            PMII yakni sebagai wadah pergerakkan kita, menuntun kita untuk membawa perubahan. Bahwa seperti yang termaktub di dalam Al-Qur’an, bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu hamba, kecuali hamba itu yang mau mengubah dirinya. Maka di sini kita mesti ada usaha dalam PMII. Layaknya wadah, tidak mampu mengubah kita menjadi lebih baik jika diri kitanya sendiri tidak mau mengubah diri kita.

            PMII sudah menyediakan wadahnya, maka kitalah yang harus mengubahnya dari dalam diri kita dan mengubah banyak hal dengan pergerakkan. Jika seseorang bergerak namun tidak berpindah, hanya bergerak lalu kembali ke titik awal tanpa ada perubahan, maka belum bisa dikatakan untuk berpindah, melainkan berpulang ke asal.

            Sebagai seorang KOPRI maupun KOPRA mesti mengetahui tentang jati diri mereka, bagaimana cara menghargai diri sendiri maupun orang lain. Bagaimana bersikap adil dan bijaksana, berpendapat dengan hujjah (referensi) bukan hanya sekedar omongan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Sama halnya dengan perilaku.

            Kita mungkin memiliki kuantitas sumber daya manusia yang banyak di dalam organisasi, namun dalam segi kualitas, kita hanya memiliki sedikit anggota yang benar-benar ingin menjadi kader PMII yang berkualitas dan mau bergerak. Tentu itu menjadi problematika dan PR kita bersama. Memikirkan lagi, merombak lagi tujuan kita yang awalnya hanya ingin ikut-ikutan teman menjadi tujuan yang lebih baik, yakni menggapi ridho Allah dan Rosululloh.

            Tentu tujuan ke duanya adalah menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Orang yang memberikan pelayanan dan kebaikkan tentu akan kalah dengan orang yang hanya sekedar menggemborkan retorika dan teori semata. Mengeluarkan janji-janji yang tidak dapat dibuktikan setelah terjun langsung ke lapangan. Berapa banyak orang bahkan kader yang menghilang setelahnya karena merasa tidak dibina? Tentu ini menjadikan para peserta SIG mesti merombak tujuannya menjadi tujuan yang benar, bukan hanya sekedar tujuan biasa.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Hikmah Buku Pembangun Ruhaniah

Malu Bertanya #21 : Ujian Pria (Syahwat dan Wanita) dan Perempuan (Perasaan dan Harta)

Si Putih-Tere Liye