Mendewasa, Menerima

     Dia yang dulu tertawa di pelukmu. Dia yang dulu selalu mengikuti ke mana kau pergi. Dia yang senang dengan kedatanganmu, menangis saat kau pergi. Dia yang berlari lincah dan menceritakan semua momen yang dia rasakan, yang selalu memanggilmu "Kakak", seketika berubah setelah kepergian sosok 'ayah' dalam hidupnya. Kau mulai terbawa beberapa emosi dan tertumpahkan ke 'Dia'. 

    Sehingga kesempurnaan itu luluh lantak. Kau... Tak bisa menggantikan sosok 'ayah' baginya. Kau... Sekarang nampak jahat di matanya. Beberapa kali kau coba memperbaiki hubungan dengannya yang kau sebut 'Adik Kesayanganku', namun seolah tak cukup. Sampai suatu ketika terdengar lagu Bernadya yang sedang trending, diputarkan saat kau menyendiri di cafetaria,  'Kata Mereka Ini Berlebihan'. Seketika air matamu tumpah saat mendengar pada bagian lirik :

    "Ingin sempurna di matamu. Hanya itu yang aku mau. Namun tampaknya... Seolah tak cukup bagimu."

    karena kau sudah berusaha sekuat tenaga menjadi sosok "Kakak" di mata 'Dia'. Namun sekarang kau di cap "Kakak paling BERLEBIHAN". Kakak yang keras kepala, pemalas dan tak dapat diandalkan. Bisa jadi itu hanya buah pikiranmu. Kau... Mulai membuat skenario penyebab dinginnya sikap 'Dia'. Kau mulai menyalahkan dirimu sendiri. Kumohon... Berhentilah. Berhentilah terpuruk dan menyalahkan dirimu sendiri. 

    Berhentilah menyakiti dirimu sendiri dengan ucapan menjatuhkan diri sendiri, meruntukki diri atau bahkan menampar-nampar pipimu hanya untuk memutar balikkan waktu. Berhenti menyakiti dirimu sendiri dan menangis sesenggukkan di tengah malam. Kumohon, kau terlalu berharga untuk merusak dirimu secara perlahan dengan cara seperti itu. 

    Sekarang aku ingin menanyakan ini padamu. Jika seandainya kau sudah hilang akal karena pikiran burukmu, kau pasti akan dicibir manusia paling tak bersyukur dan tak memiliki iman di dunia ini. Seandainya kau menarik diri dari semua orang, kau akan dianggap orang gila, depresi atau salah didik, Seandainya kau luka lebam bahkan mati sekalipun karena menyalahkan dirimu sendiri, sungguh kau akan dianggap orang yang memusuhi Tuhan dan tak bertauhid. Apa yang kau dapat setelahnya? Apakah semua bisa mengubah dan memutar balikkan waktu ke masa bahagia yang kau maksud? 

    Sekarang, mulailah membuat karya. Aku pernah mendengar ucapan seseorang, kurang lebih seperti ini :

 "Ketika seseorang sedih, dia akan lebih banyak berkarya lewat kesedihannya, untuk sekedar menumpahkan seluruh emosinya. Namun, jika seseorang itu sedang bahagia, dia lebih senang menikmati karyanya maupun karya orang lain."

    Maka ini saatnya kau membuat karya, entah sekedar membuat lagu sendiri, menuliskan novel, cerpen, puisi atau pengembangan diri. Bisa saja kau buat lukisan, memasak, berkebun atau menghasilkan sesuatu, apapun itu. Sesuatu yang membuatmu merasa "Oh, aku berguna", "Aku sudah berbuat sesuatu!". Sehingga kesedihanmu digantikan dengan hal-hal baru maupun dengan menyibukkan dirimu dalam berkarya. Tetaplah berbuat baik untuk 'Dia', walau diacuhkan. Kau tak perlu memperhatikannya "BERLEBIHAN" seperti yang 'Dia' maksud. Buatkanlah makanan, tanpa menanyakan "Apakah kamu sudah makan?", "Kamu mau ini?", cukup buat, letakkan dalam tudung saji. Tak perlu menanyakan tugas rumahnya atau apapun itu, biarkan 'Dia' yang datang sendirinya padamu. Ingat, 'Dia' adalah adikmu. Adik yang sangat kau sayangi. 'Dia', telah dewasa. Maka kau harus menerima bahwa dia telah mendewasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Hikmah Buku Pembangun Ruhaniah

Malu Bertanya #21 : Ujian Pria (Syahwat dan Wanita) dan Perempuan (Perasaan dan Harta)

Si Putih-Tere Liye